Upaya Pemindahan Pari, Harapan Baru Penyelamatan Badak Kalimantan

Badak Kalimantan
Sumber :

Situasi ini mencerminkan krisis populasi badak sumatra secara keseluruhan. Menurut catatan para konservasionis, total badak sumatra diperkirakan hanya tersisa kurang dari 80 individu di alam liar, tersebar di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser.

Di Kalimantan, keberadaan Pari menjadi sangat berharga karena menambah harapan tersisa dari garis keturunan yang berbeda. Dengan kata lain, Pari bukan hanya sekadar satu individu badak, melainkan kunci penting bagi keberagaman genetik yang sangat dibutuhkan untuk pemulihan spesies.

Pelestarian badak bukan hanya tugas satu lembaga, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas pihak seperti pemerintah, lembaga konservasi, peneliti, hingga masyarakat lokal. SBK menjadi contoh kolaborasi itu, di mana pengelolaan BKSDA Kalimantan Timur didukung oleh ALeRT serta mitra konservasi lain yang berpengalaman.

Selain infrastruktur, dukungan pendanaan jangka panjang juga krusial. Upaya konservasi badak membutuhkan biaya besar untuk perawatan, pemantauan, hingga program reproduksi. Karena itu, sinergi pemerintah, donor internasional, dan masyarakat sipil sangat menentukan keberlanjutan program ini.

“Pelestarian badak adalah pekerjaan besar yang hanya bisa berhasil lewat kerja kolektif. Kita perlu optimis, karena tanpa aksi nyata, badak Kalimantan bisa benar-benar hilang dari bumi,” pungkas Ari Wibawanto.

Kisah Pari membawa pesan mendalam, betapa satu individu satwa liar bisa menjadi penentu masa depan spesies. Jika Pari berhasil dipindahkan dan dirawat dengan baik di SBK, peluang melahirkan generasi baru badak Kalimantan masih terbuka. Namun, jika Pari hilang di habitatnya, maka harapan itu ikut sirna.