Upaya Pemindahan Pari, Harapan Baru Penyelamatan Badak Kalimantan
Proses seperti ini pernah dilakukan terhadap Najaq, badak betina lain yang terekam kamera pada Oktober 2015 dengan jerat di kakinya. Najaq berhasil masuk perangkap pit trap pada Maret 2016, namun meski telah dirawat, ia meninggal pada April 2016 akibat infeksi serius. Pengalaman pahit itu menjadi pelajaran penting betapa rapuhnya kondisi badak Kalimantan saat berada di tangan manusia.
Karena itu, setiap langkah pemindahan Pari harus dihitung secara matang. Kesiapan fasilitas boma, kehadiran dokter hewan berpengalaman, hingga jalur transportasi yang aman menjadi syarat mutlak agar Pari tidak mengalami trauma maupun risiko kesehatan.
Ketiadaan jantan di SBK memang masih menjadi keterbatasan utama. Namun, para peneliti menyiapkan jalan lain seperti penerapan Assisted Reproductive Technologies (ART) atau teknologi reproduksi berbantu.
Melalui ART, peluang kelahiran badak baru tetap terbuka meskipun tidak ada perkawinan alami. Program ini sebelumnya telah diuji pada badak sumatra di fasilitas konservasi lain, termasuk di Sumatera. Harapannya, dengan teknologi ini, Pahu dan Pari dapat berkontribusi bagi kelangsungan populasi badak Kalimantan di masa depan.
Di samping itu, SBK juga menjadi pusat penelitian yang menghubungkan ilmuwan dalam dan luar negeri. Setiap individu badak yang dipindahkan tidak hanya diselamatkan, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan untuk pengembangan strategi konservasi global.
Sejak kematian Iman, badak Kalimantan terakhir di Malaysia pada 23 November 2019, populasi subspesies ini hanya tersisa di Indonesia. Kalimantan Timur menjadi rumah terakhir mereka, namun jumlahnya sangat sedikit.
“Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, saat ini hanya memiliki dua individu badak Kalimantan: Pahu dan Pari. Keduanya menjadi prioritas utama,” tegas Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim.